Omset LarisOmset Laris

Tools Gratis

Kalkulator Tabungan & Investasi

Lihat berapa uang Anda tumbuh jika ditabung rutin, atau hitung berapa yang harus disetor tiap bulan untuk mencapai target. Gratis, tanpa daftar, semua perhitungan berjalan di perangkat Anda.

Anda tahu berapa yang bisa disetor tiap bulan, dan ingin melihat jadi berapa nanti.

Angka ini sepenuhnya asumsi Anda, bukan angka yang kami janjikan. Sebagai ilustrasi kasar: tabungan biasa biasanya sangat rendah, deposito menengah, dan reksadana saham secara historis lebih tinggi tapi berisiko dan bisa minus. Isi sesuai keyakinan dan produk yang Anda pilih sendiri.

Penting — baca sebelum mengambil keputusan

Kalkulator ini menggunakan asumsi imbal hasil TETAP setiap tahun untuk tujuan simulasi. Investasi nyata (reksadana, saham, dll) memiliki imbal hasil yang berfluktuasi dan mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan modal. Ini bukan nasihat/rekomendasi investasi. Deposito/tabungan juga dipotong pajak bunga yang tidak diperhitungkan di sini.

Perhitungan ini juga belum memperhitungkan inflasi, biaya pembelian/penjualan produk investasi, dan biaya manajemen. Nilai Rp1 juta hari ini tidak sama dengan Rp1 juta sepuluh tahun lagi.

Proyeksi hasil Anda

Nilai akhirSetelah jangka waktu di atas
Total hasil imbal hasilBagian yang dihasilkan bunga majemuk
Total uang Anda sendiriModal awal + seluruh setoran
Porsi dari bunga majemukBagian nilai akhir yang bukan dari uang Anda

Isi estimasi imbal hasil per tahun terlebih dahulu. Kami sengaja tidak mengisinya untuk Anda, karena angka itu asumsi Anda sendiri — bukan sesuatu yang bisa kami janjikan.

Isi angkanya untuk melihat grafik pertumbuhan.

Dapatkan tips finansial & bisnis dari Omsetlaris

Kalkulator ini gratis dan tidak terkait produk investasi apa pun — kami tidak menjual dan tidak merekomendasikan produk keuangan. Jika bermanfaat, Anda boleh meninggalkan kontak untuk menerima artikel seputar pengelolaan keuangan dan bisnis. Tidak wajib.

Data Anda hanya dipakai tim Omset Laris untuk menghubungi Anda. Tidak dijual, tidak dibagikan.

Tiga istilah di balik angkanya

Angka di kalkulator ini muncul dari tiga konsep sederhana. Paham ketiganya, dan Anda bisa menilai sendiri apakah rencana Anda masuk akal.

Bunga Majemuk

Bunga majemuk adalah bunga yang dihitung dari modal awal ditambah bunga yang sudah terkumpul sebelumnya — bunga menghasilkan bunga. Efeknya kecil di tahun-tahun awal dan menjadi sangat besar setelah belasan tahun. Inilah alasan waktu jauh lebih menentukan daripada besarnya setoran.

Imbal Hasil

Imbal hasil adalah persentase keuntungan yang Anda dapat per tahun dari uang yang ditempatkan. Angkanya berbeda tiap produk dan tidak pernah dijamin: tabungan biasa rendah, deposito menengah, reksadana saham secara historis lebih tinggi tapi bisa minus. Kalkulator ini memakai angka yang Anda isi sendiri.

Compounding Frequency

Compounding frequency adalah seberapa sering bunga dihitung dan ditambahkan ke saldo — bisa harian, bulanan, atau tahunan. Semakin sering, semakin cepat pertumbuhannya meski persentasenya sama. Kalkulator ini memakai compounding bulanan, karena paling cocok dengan kebiasaan menyetor tiap bulan.

Panduan Lengkap Bunga Majemuk dan Merencanakan Tabungan

Kalkulator ini membantu Anda melihat dua hal: berapa uang Anda akan tumbuh jika ditabung atau diinvestasikan secara rutin, dan berapa yang harus disetor tiap bulan untuk mencapai target tertentu. Semua perhitungan memakai bunga majemuk bulanan dan berjalan di browser Anda. Satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal: angka imbal hasil sepenuhnya asumsi Anda, bukan janji dari kami.

Apa itu bunga majemuk dan kenapa efeknya besar

Bunga majemuk atau compound interest adalah bunga yang dihitung bukan hanya dari modal awal, tetapi juga dari bunga yang sudah terkumpul sebelumnya. Bunga menghasilkan bunga. Itulah sebabnya grafik pertumbuhan tabungan tidak berbentuk garis lurus, melainkan melengkung ke atas semakin lama semakin curam.

Perbedaannya dengan bunga tunggal terlihat jelas dalam jangka panjang. Dengan bunga tunggal, Rp10 juta pada 6% menghasilkan Rp600 ribu setiap tahun, selamanya. Dengan bunga majemuk, tahun pertama tetap Rp600 ribu, tetapi tahun kedua dihitung dari Rp10,6 juta, tahun ketiga dari Rp11,24 juta, dan seterusnya. Selisihnya kecil di awal dan menjadi sangat besar setelah belasan tahun.

Inilah kenapa waktu jauh lebih menentukan daripada besarnya setoran. Orang yang menabung Rp500 ribu per bulan selama 20 tahun umumnya berakhir jauh di atas orang yang menabung Rp1 juta per bulan selama 8 tahun, meski total setorannya mirip. Yang bekerja bukan jumlah uangnya, melainkan lamanya uang itu diberi waktu bertumbuh.

Cara menggunakan kalkulator ini

Ada dua mode, dan keduanya memakai rumus yang sama, hanya arahnya berbeda.

  1. 1Mode Proyeksi Hasil: pilih ini kalau Anda sudah tahu berapa yang sanggup disetor tiap bulan, dan ingin melihat jadi berapa nanti. Isi modal awal, setoran bulanan, dan jangka waktu.
  2. 2Mode Kejar Target: pilih ini kalau Anda punya angka target — misalnya dana pendidikan atau modal usaha — dan ingin tahu berapa yang harus disetor tiap bulan untuk mencapainya.
  3. 3Isi estimasi imbal hasil per tahun. Kolom ini sengaja kami kosongkan; angkanya asumsi Anda sendiri, bukan sesuatu yang bisa kami tentukan.
  4. 4Baca grafiknya. Area biru adalah uang yang Anda setor sendiri; area emas di atasnya adalah hasil bunga majemuk. Semakin panjang jangka waktunya, semakin tebal area emas itu.
  5. 5Ubah-ubah angka imbal hasil untuk melihat seberapa sensitif hasilnya. Ini justru cara terbaik memakai kalkulator ini.

Rumus yang dipakai

Kalkulator ini memakai compounding bulanan, karena itu yang paling cocok dengan kebiasaan menyetor tiap bulan. Bunga per bulan dihitung sebagai imbal hasil tahunan dibagi 12 dibagi 100, dan jumlah periode adalah jangka waktu dikali 12.

Nilai masa depan dari modal awal dihitung dengan P dikali (1 + i) pangkat n. Nilai masa depan dari setoran rutin memakai rumus anuitas: PMT dikali ((1 + i) pangkat n dikurangi 1) dibagi i, dengan asumsi setoran dilakukan di akhir tiap bulan. Nilai akhir adalah penjumlahan keduanya.

Untuk mode Kejar Target, rumusnya dibalik. Kalkulator menghitung dulu berapa modal awal Anda akan tumbuh sendiri, mengurangkannya dari target, lalu membagi sisanya dengan faktor anuitas untuk mendapat setoran bulanan yang dibutuhkan. Kalau modal awal saja sudah melewati target, kalkulator mengatakannya dengan jujur alih-alih menampilkan setoran negatif.

Batas kejujuran kalkulator ini

Kalkulator ini memakai asumsi imbal hasil tetap setiap tahun. Kenyataannya tidak ada investasi yang memberi angka persis sama setiap tahun. Reksadana saham bisa naik 20% setahun lalu turun 15% tahun berikutnya. Yang Anda lihat di sini adalah garis rata-rata yang mulus, sementara pengalaman nyata berupa naik-turun yang kadang menegangkan.

Ada beberapa hal yang tidak diperhitungkan sama sekali, dan semuanya mengurangi hasil nyata Anda:

  • Inflasi. Rp1 miliar sepuluh tahun lagi tidak sama daya belinya dengan Rp1 miliar hari ini. Kalau imbal hasil Anda 6% dan inflasi 4%, pertumbuhan riil Anda hanya sekitar 2%.
  • Pajak. Bunga deposito dan tabungan dipotong pajak final. Keuntungan dari beberapa instrumen investasi juga punya perlakuan pajak sendiri.
  • Biaya. Reksadana punya biaya manajemen, biaya pembelian, dan kadang biaya penjualan. Semuanya menggerus hasil dan tidak muncul di kalkulator ini.
  • Risiko kehilangan modal. Kalkulator ini secara matematis tidak bisa menghasilkan angka minus, tetapi investasi nyata bisa. Itu perbedaan yang penting.
  • Konsistensi Anda sendiri. Rumus mengasumsikan Anda menyetor setiap bulan tanpa putus selama bertahun-tahun. Dalam praktiknya, inilah bagian yang paling sering gagal.

Kenapa kami tidak mengisikan angka imbal hasil untuk Anda

Banyak kalkulator investasi mengisi kolom imbal hasil dengan angka default seperti 8% atau 12%. Kami sengaja tidak. Angka default di kalkulator terbaca sebagai saran, dan saran soal imbal hasil adalah hal yang tidak berhak kami berikan — kami bukan penasihat investasi berlisensi, dan kami tidak menjual produk keuangan apa pun.

Sebagai gambaran kasar dan bukan rekomendasi: tabungan biasa umumnya memberi imbal hasil sangat rendah, sering di bawah inflasi. Deposito berada di tengah dengan risiko rendah. Reksadana pasar uang cenderung konservatif. Reksadana saham secara historis memberi angka lebih tinggi dalam jangka panjang, tetapi bisa minus dalam setahun dan mengandung risiko kehilangan sebagian modal. Angka mana pun yang Anda pakai, pastikan itu berasal dari prospektus produk yang Anda pilih sendiri, bukan dari kalkulator mana pun.

Cara paling berguna memakai kalkulator ini bukan mencari angka terbesar, melainkan menguji seberapa rapuh rencana Anda. Coba turunkan asumsi imbal hasil beberapa persen dan lihat apakah target Anda masih tercapai. Kalau rencana Anda hanya berhasil pada asumsi optimis, itu bukan rencana — itu harapan.

Menabung untuk usaha, bukan hanya untuk pribadi

Kalkulator ini sering dipakai untuk tujuan pribadi seperti dana pendidikan atau dana darurat, tetapi sama bergunanya untuk merencanakan modal usaha. Kalau Anda menyisihkan sebagian laba setiap bulan untuk membeli alat, membuka cabang, atau menambah stok, mode Kejar Target akan memberi tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan — dan apakah rencana itu realistis dengan laba Anda sekarang.

Perlu diingat satu hal penting: menabung untuk modal usaha berbeda dari berinvestasi di pasar. Uang yang akan Anda pakai dalam waktu dekat sebaiknya tidak ditaruh di instrumen yang bisa turun nilainya tepat saat Anda membutuhkannya. Semakin dekat jangka waktunya, semakin kecil risiko yang pantas Anda ambil.

Kalau Anda sedang menghitung kelayakan usaha secara keseluruhan, ada baiknya melihat Kalkulator BEP untuk mengetahui titik impas, dan Kalkulator HPP untuk memastikan margin produk Anda memang sehat. Menabung dari laba yang tipis akan selalu terasa berat, dan biasanya masalahnya ada di harga, bukan di kedisiplinan menabung.

FAQ

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu bunga majemuk dan bagaimana cara menghitungnya?

Bunga majemuk adalah bunga yang dihitung bukan hanya dari modal awal, tetapi juga dari bunga yang sudah terkumpul. Rumusnya untuk modal awal: FV = P x (1 + i) pangkat n, di mana i adalah bunga per bulan (imbal hasil tahunan dibagi 12 dibagi 100) dan n adalah jumlah bulan. Untuk setoran rutin dipakai rumus anuitas: PMT x ((1 + i) pangkat n dikurangi 1) dibagi i. Kalkulator ini menjumlahkan keduanya dan menampilkan hasilnya per tahun dalam grafik.

Berapa imbal hasil yang realistis untuk dipakai?

Tidak ada satu angka yang benar, dan kami sengaja tidak mengisikannya untuk Anda karena angka default di kalkulator mudah terbaca sebagai janji. Sebagai gambaran kasar dan bukan rekomendasi: tabungan biasa umumnya sangat rendah dan sering kalah dari inflasi, deposito berada di tengah dengan risiko rendah, sedangkan reksadana saham secara historis lebih tinggi dalam jangka panjang tetapi bisa minus dalam setahun. Ambil angka dari prospektus produk yang benar-benar Anda pilih, lalu uji juga dengan asumsi yang lebih rendah.

Lebih penting mana: setoran besar atau waktu yang panjang?

Dalam bunga majemuk, waktu hampir selalu menang. Orang yang menabung Rp500 ribu per bulan selama 20 tahun umumnya berakhir jauh di atas orang yang menabung Rp1 juta per bulan selama 8 tahun, meski total setorannya mirip — karena uang yang pertama diberi waktu lebih lama untuk berbunga. Coba sendiri di kalkulator ini: ubah jangka waktunya dan perhatikan area emas di grafik membesar jauh lebih cepat daripada area birunya.

Apakah hasil kalkulator ini pasti tercapai?

Tidak. Kalkulator ini memakai asumsi imbal hasil tetap setiap tahun, sedangkan investasi nyata berfluktuasi — reksadana saham bisa naik 20% lalu turun 15% tahun berikutnya. Selain itu perhitungan ini belum memasukkan inflasi, pajak bunga, biaya manajemen, dan biaya pembelian. Semua faktor itu mengurangi hasil nyata Anda. Gunakan angka di sini sebagai gambaran perencanaan, bukan sebagai target yang dijamin.

Apakah kalkulator ini memperhitungkan inflasi dan pajak?

Tidak, keduanya sengaja tidak dihitung agar rumusnya tetap sederhana dan transparan. Artinya angka yang muncul adalah nilai nominal, bukan daya beli. Kalau imbal hasil Anda 6% per tahun dan inflasi 4%, pertumbuhan riil Anda hanya sekitar 2%. Bunga deposito dan tabungan juga dipotong pajak final yang tidak muncul di sini. Untuk perencanaan yang lebih konservatif, coba masukkan imbal hasil dikurangi perkiraan inflasi.

Siap membuat brand Anda terlihat lebih dipercaya?

Mulai dari konsultasi singkat. Kami bantu petakan website, funnel, dan prioritas digital yang paling berdampak untuk omset.

Diskusi Project
Kalkulator Investasi & Bunga Majemuk Gratis — Hitung Tabungan | Omset Laris